Rishi Vyasa: (Baratha) setara dengan Veda. Ini adalah suci dan agung. Baratha menganugerahi kekayaan dan kemakmuran. Oleh karena itu, seseorang harus mendengarkan dan mempelajari dengan perhatian penuh.

PARVA ini penuh dengan kejadian yang menyedihkan dan mengharukan hati. Baratayudha, perang besar itu telah berakhir tiga puluh enam tahun lalu. Pahlawan-pahlawan yang berhati singa dari keluarga Vrishni, dengan masih banyak bekas luka di tubuhnya, tak berdaya oleh kutukan Brahmana. Mereka tidak bisa menghilangkan kebiasaan minum minuman keras yang memabukkan. Akibat dorongan nasib, mereka akhirnya saling bantai satu dengan lainnya di tepi laut garam dengan rumput Ereka di tangan mereka. Isyarat itu merupakan tanda-tanda celaka dari guntur. Pada Parva Maushala ini baik Balarama maupun Keshava (Sri Krishna) setelah punahnya keluarga mereka, tidak berdaya oleh waktu. Mereka sendiri tidak bisa menunjukkan kekuatannya melebihi kekuasaan sang waktu yang menghancurkan segalanya.

Arjuna yang utama di antara manusia dijemput Daruka, saisnya Sri Krishna pergi ke Dwaravati (Dwaraka). Arjuna sangat sedih menyaksikan kotanya keluarga Vrishni terkena musibah ”hukum” waktu. Setelah upacara pemakaman Vasudeva, pamannya dari pihak ibu yang juga terkemuka di antara keluarga Yadu (Vrishni). Arjuna melihat para pahlawan keluarga Yadu berbaring mati di tempat mereka minum-minum. Dia meneruskan perjalanan dari Dwaraka menuju Indraprastha dengan diikuti sejumlah wanita dan anak-anak, orang-orang yang sudah tua sisa-sisa keluarga Yadu yang masih hidup. Air laut meluap setelah itu dalam sekejap menghancurkan Dvarawati. Di tengah jalan rombongan ini dirampok. Senjata-senjata sakti seperti Gandiva tidak berfungsi lagi. Melihat semua hal ini, Arjuna menjadi sangat sedih dan menuruti perintah Rishi Vyasa pergi menemui Yudhishthira. Arjuna harus minta izin melaksanakan cara hidup Sannyasa. Inilah parva keenam belas yang disebut Maushala terdiri atas delapan bab dan 320 sloka.

Mahaprasthanika Parva menceritakan keluarga Pandava yang terutama di antara manusia menobatkan Parikshit. Sedangkan Pandava pergi ditemani oleh Draupadi dan seekor anjing melakukan perjalanan suci ke arah timur, yang disebut Mahaprasthanika. Di tengah perjalanan di sekitar laut merah Pandava berjumpa dengan Dewa Agni. Di sini, Arjuna menyembah Dewa Agni dengan sepatutnya. Dewa Agni meminta Arjuna mengembalikan busur yang hebat yang bernama Gandiva dan senjata-senjata surgawi lainnya. Setelah itu, Yudhishthira meninggalkan Draupadi dan saudara-saudaranya yang telah jatuh satu per satu. Dia melanjutkan perjalanannya tanpa sekejap pun menengok ke arah belakang. Parva yang ketujuh belas ini bernama Mahaprasthanika.

Dosa-dosa Draupadi dan saudara-saudaranya. Dalam batinnya, Draupadi tetap sangat mencintai Arjuna melebihi cintanya dengan suami-suami Pandava lainnya. Nakula dan Sahadeva terlalu bangga akan ketampanan dirinya. Arjuna terlalu memandang rendah kemampuan pemanah-pemanah lainnya. Bhima mementingkan makanan dan bangga akan kekuatan badannya. Empat saudaranya gugur lebih dulu. Hanya Yudhishthira dan anjingnya yang meneruskan perjalanan; Rishi Vyasa menyusun tiga bab dari 320 sloka. Svargarohanika Parva. Parva ini sangat luar biasa tentang kejadian-kejadian surgawi. Melihat kereta surgawi yang datang menjemputnya, Yudhishthira dengan penuh kebahagiaan menghampiri seekor anjing yang sejak awal ikut menemaninya. Yudhishthira menolak untuk naik kereta tanpa keikutsertaan si anjing suci itu. Melihat ketaatan Yudhishthira yang termasyhur akan kebajikan. Dewa Dharma, dewa keadilan, melepaskan bentuk anjingnya. Anjing itu memperlihatkan keberadaan sesungguhnya siapa dirinya kepada sang raja. Namun, Yudhishthira naik ke surga dengan penuh rasa sakit. Utusan surgawi awalnya memperlihatkan neraka. Di sana dia mendengar rintihan saudara-saudaranya yang menyakitkan hati Yudhishthira. Raja yang berjiwa adil itu tak bergeming, ingin tetap tinggal di daerah yang berada di bawah kekuasaan Yama itu. Sesungguhnya, Dewa Dharma dan Indra memperlihatkan kepada Yudhishthira daerah yang diperuntukkan bagi si pendosa-pendosa. Setelah Yudhishthira menanggalkan badan kasarnya dengan terjun mandi di Sungai Ganga yang sangat suci. Dia kemudian mencapai daerah surga sesuai pahala perbuatannya. Di sana Yudhishthira mulai hidup dengan bahagia dan sangat dihargai dan juga dihormati Indra dan Dewa-dewa lainnya. Inilah Parva kedelapan belas seperti yang diceritakan Rishi Vyasa yang termasyhur mencapai 209 sloka. Menyusul Purana Khilvansa. Yang terakhir ini berisikan Vishnuparva. Diceritakan Vishnu yang kelakuannya seperti anak kecil bersenang-senang. Dikisahkan juga penghancuran ”Kansa” dan akhirnya, ”Bhavishyaparva” yang berisi beberapa ramalan kejadian masa depan. Demikianlah ringkasan isi dari delapan belas parva. Harivansa dan Vavishya terdapat pada lampiran Khita. Harivansa terdiri atas 12.000 sloka.