Biarlah hati tetap teguh dalam kebajikan. Sesungguhnya kebajikanlah satu-satunya teman yang menyertainya ketika pergi ke dunia niskala seperti alam pitri, para dewa dan kerajaan ketuhanan. Cara yang paling mulia menghargai kekayaan dan istri, tidak pernah menjadikan kebajikan itu miliknya. Bharata yang dikumandangkan lewat Rishi Vyasa Dwaipayana tidak ada duanya. Itihiasa ini tidak ada yang menyamai. Baratha merupakan kebajikan itu sendiri. Itu melebur dosa dan menganugrahi kebajikan. Ia yang mendengarkan sejarah yang sedang dicertikan ini sangat terberkati. Dia tidak perlu mandi di air suci Pushkara.

Dosa apapun yang telah diperbuatnya seorang Brahmana sepanjang hari oleh ketidak sadaran indriyanya. Semuanya akan dibebaskan dengan membaca Bharata pada petang harinya. Dosa diperbuat pada malam harinya baik perbuatan, perkataan atau pikiran yang buruk, ia akan dibebaskan dari semua dosa itu bila membaca Bharata pada waktu subuhnya. Seseorang yang telah menghadiahkan 100 ekor sapi yang ujung tanduknya dilapisi emas kepada seorang Brahmana yang sudah menguasai betul isi Veda dan semua cabang pengetahuannya, pahalanya setara dengan mendengarkan cerita Bharata yang suci ini. Baratha merupakan samudra yang luas dengan mudah dilalui oleh seseorang yang mempunyai “kapal” ini. Baratha juga merupakan sejarah yang luas yang sangat baik dan dalam arti serta isinya ini.

Jumlah prajurit dan kereta pada perang Bharatayuda. Kereta perang satu buah, satu ekor gajah, lima orang prajurit jalan kaki dan tiga ekor kuda membentuk satu Patti. Sedangkan tiga Patti membentuk satu Sena-mukha. Tiga Sena-mukha membentuk satu Gulama. Tiga Gulma menjadi satu Gana. Tiga Gana menjadi satu Vahini. Tiga Vahini menjadi satu Pritana. Tiga Pritana menjadi satu Chamu. Tiga Chamu menjadi satu Anikini, dan sepuluh Aikini membentuk satu Akshauhini. Ahli hitung telah menjumlah bahwa total kereta perang dalam satu Akshauhini adalah 21.870 buah. Jumlah yang sama untuk jumlah gajah. Jumlah prajurit jalan kaki 109.350 orang. Kudanya 65.610 ekor. Menurut perhitungan inilah yang membentuk delapanbelas Akshauhini pasukan Kaurava dan Pandava. Waktu, secara luar biasa berjalan mengantarkan mereka ke satu titik tersebut. Kaurava lah divonis menjadi penyebab hancurnya mereka semua. Total personil yang terlibat hampir mencapai lima juta (5.000.000) prajurit. Sungguh, suatu perang yang paling dahsyat dalam sejarah manusia, bertempur dalam satu lokasi dan hampir seluruhnya punah dalam jangka waktu delapan belas hari.

Bhishma yang menguasai beberapa senjata pilihan, bertempur selama sepuluh hari. Drona melindungi Kaurava Vahini selama lima hari. Karna penghancur pasukan musuh bertempur selama dua hari; Shalya setengah hari. Setengah hari terakhir diisi pertarungan menggunakan gada antara Duryodhana dan Bhima. Sebagai penutup hari terakhir, Ashvattama dan Kripa menghancurkan keluarga Yudhishthira pada malam hari, ketika mereka sedang tidur. Siapapun tidak curiga akan adanya bahaya dan serangan dadakan ini.

Bhishma parva penuh dengan kejadian yang sangat hebat. Bhishma ditunjuk menjadi panglima perang pasukan pihak Kaurava. Berikutnya adalah pembuatan antar daerah Jambu. Kemudian Bhumi. Catatan tentang informasi pulau-pulau. Menyusul ‘Bhagavat-gita’ dan kemudian gugurnya Bhishma.

Diceritakan kesengsaraan yang diderita pasukan Yudhishthira oleh karena pertempuran sengit dalam kurun waktu sepuluh hari berturut-turut. Untuk mengatasi hal ini Vasudewa yang berjiwa mulia memberi wejangan filosofi pelepasan tertakhir. Kata kata suci Vasudewa menghilangkan penyesalan Arjuna yang muncul dari ingatan bawah sadar Arjuna terhadap sanak keluarganya yang gugur. Sri Krishna yang murah hati memberi perhatian terhadap kesejahteraan Yudhishthira atas kerugian yang diderita pasukan Pandava. Kisah lainnya, Arjuna turun dari keretanya dengan cepat, berlari dengan membusungkan dada dan dengan cemeti masih di tangannya begitu menyaksikan kakeknya Bhishma gugur. Sri Krishna menyindir Arjuna dengan kata-kata yang menusuk hati. Karena, pemegang Gandiva yang sangat terkenal dan termasyur dalam pertempuran diantara para pemegang senjata panah itu menempatkan Shikandin di depannya. Taktik itu memudahkan Arjuna dengan jitu memanah dada kakek Bhishma dengan anak panahnya yang sangat tajam. Hujan panah yang dilancarkan Arjuna membuat Bhishma jatuh dari keretanya. Selanjutnya Bhishma terbaring di atas tempat tidur yang terdiri dari anak panah menunggu hari baik uttarayana.

Parva yang luas ini sebagai bagian yang keenam dari Bharata. Parva ini disusun menjadi 117 bab, yang terdiri dari 5.884 sloka. Demikian diceritakan Rishi Vyasa yang sangat paham dengan Veda.