Rishi Vyasa : (Baratha) setara dengan Veda. Ini adalah suci dan agung. Baratha menganugrahi kekayaan dan kemasyuran. Olah karena itu, seseorang harus mempelajari dan mendengarkan dengan perhatian penuh.

BRAHMANA yang agung, Sthulakesa adalah seorang Muni yang utama. Di suatu tempat, Dia melihat bayi perempuan itu dengan penuh perasaan, kemudian mengambil dan mengasuhnya. Anak yang cantik ini tumbuh di pertapaannya yang suci. Anak itu tumbuh dan berkembang dengan memiliki sifat-sifat dan jiwa mulia. Rishi Sthulakesa mendoakan dengan melaksanakan berbagai prosesi upacara mulai dari kelahiran dan seterusnya sesuai dengan ketentuan, aturan dan hukum Veda. Perkembangan gadis itu melebihi teman-temannya terutama keunggulanya pada sifat-sifat mulai seperti kebaikan termasuk kecantikan, Rishi yang agung ini memberinya nama Pramadvara.

Singkat cerita, Ruru yang saleh setelah melihat Pramadvara di pertapaan Sthulakesa terkena panah Dewa Asmara. Ruru merasa tidak sabar ingin segera memilikinya. Ayahnya Pramiti, yang adalah putra Bhrigu mengetahui keinginan anaknya. Dan Pramiti memintanya baik-baik kepada Sthulakesa yang menjadi sangat terkenal karena anaknya yang cantik luar biasa. Tanpa banyak pertimbangan sang ayah angkat menyerahkan Pramadvara kepada Ruru. Selanjutnya menetapkan hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan pada hari ketika bintang Varga-Daivata, Purva-pahlguni akan muncul.

Beberapa hari sebelum hari pernikahan ditentukan, gadis yang cantik ini sewaktu bermain-main dengan ditemani oleh calon suaminya, tidak sengaja ia menginjak ular yang bergulung di tanah. Ular ini bereaksi, segera melaksanakan kehendak sang takdir. Ular itu dengan sangat keras mematukkan taringnya yang beracun ke badan sang gadis yang lagi tidak siaga dan waspada.

Pramadvara terjatuh ke tanah dan pingsan setelah dipatuk ular ini. Cahaya mukanya pudar dan keanggunannya pelan pelan menghilang. Dan dengan rambut yang kusut ia menjadi tontonan menyedihkan teman-temannya. Pandangan menyenangkan oleh pesona gadis itu, berubah menjadi pemandangan yang menyakitkan. Gadis yang berpinggang langsing ini terbaring di tanah seperti orang yang tertidur. Tanpa dapat dikenali, dia sepenuhnya dikuasai bisa ular. Hebatnya, kecantikannya tidak berkurang, dibandingkan sewaktu masih hidup. Baik ayah angkatnya dan para pertapa suci lainnya di sana melihat gadis ayu itu dalam keadaan tidak bergerak di atas tanah dengan kemegahan bunga lotus. Beberapa Brahmana yang penuh dengan keharuan datang. Para Brahmana itu duduk mengelilinginya. Swastyatreya, Mahajana, Kushika, Sankhamekhala, Uddalaka, Katha dan Sveta yang sangat termasyhur, Bharadwaja, Kaunakutsya, Arshtishena, Gautama, Pramati dan putra Pramati Ruru dan penghuni-penghuni hutan lainnya, datang ke sana.

Mereka melihat gadis itu berbaring mati di tanah dikuasai oleh racunnya ular yang telah menggigitnya. Mereka semua menangis terharu. Tetapi Ruru, karena sangat tersiksa yang memalukan di luar kemampuannya, menghilang dan mundur dari pemandangan itu.

Sementara para Brahmana yang termasyhur itu duduk mengelilingi mayat Pramadvara. Ruru, yang dirundung sakit, pergi menuju tengah hutan dan di sana dia menangis dengan kerasnya. Ruru yang diliputi oleh kesedihan larut dalam ratapan yang sangat memilukan karena mengenang Pramadvara yang tercinta. Dia melepaskan kesedihannya dengan kata-kata ini, ‘Sayang ! Gadisku yang lembut yang meningkatkan penderitaanku berbaring di atas tanah tanpa alas. Apa yang dapat menjadikan lebih menderita bagi kami dan teman-temannya? Apabila Tuhan memberikan kemurahan hati, setelah aku melaksanakan laku tapa. Aku sangat menghormati para sesepuh. Biarkanlah pahala dari semua ini mengembalikan hidup orang yang kucintai ini,’’ tukas Ruru. ‘’Sejak lahir aku telah mengendalikan nafsuku, taat pada sumpahku. Biarkanlah Pramadvara yang cantik ini bangkit dan bangun dari tanah,’’ lanjut Ruru.

Sementara Ruru larut dalam kesedihan karena kematian calon pengantinnya, utusan dari surga datang menemuinya di hutan dan menyapanya,

‘Kata-kata yang engkau kumandangkan, O Ruru, dalam kesedihanmu itu tidak berguna sama sekali. ‘’Karena, O orang yang saleh, seseorang yang hidup di dunia ini yang harinya telah habis tidak akan pernah bisa hidup kembali,’’ ujar utusan itu. Anak Gandharva dan Apsara yang malang ini waktunya sudah habis! Karena itu, ‘’O anakku, janganlah engkau menyerahkan hatimu dalam kesedihan,’’ pintanya. Para dewa yang mulia telah menyediakan sarana untuk mengembalikan hidupnya. Dan apabila engkau dapat mematuhinya, engkau akan mendapatkan Pramadvara kembali.