Parva yang ketigabelas adalah Anusasana parva. Parva ini sangat baik sekali. Pada parva ini digambarkan bagaimana Yudhishthira, raja besar keluarga Kuru, bisa mendamaikan dirinya sendiri. Kesadaran itu tumbuh dalam batin Yudhishthira setelah mendengar penjelasan dari kakeknya Bhishma. Putra Bhagirathi alias Ibu Gangga itu memberikan banyak pelajaran berharga tentang kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan seorang pemimpin atau raja. Parva ini menjelaskan secara rinci tentang aturan-aturan menyangkut Dharma dan juga bagaimana mengelola Artha. Di samping itu aturan tentang amal, derma dan pahalanya. Tingkatan kualitas penerima derma dan cara menjalankan yang terbaik menyangkut pemberian. Parva ini juga menggambarkan upacara kewajiban pribadi, etika dan pahala yang tidak ada bandingannya dalam koridor dan aspek kebenaran universal. Parva ini menunjukkan pahala yang bagus bagi Brahmana dan juga tentang sapi. Parwa ini benar-benar membongkar misteri tentang kewajiban yang menyangkut waktu dan tempat. Berbagai kejadian ditambahkan ke dalam Parva yang sangat bagus ini yang bernama Anusasana. Dalam Parva ini telah dijelaskan tentang naiknya Bhishma ke sorga. Inilah Parva yang ketigabelas yang menerangkan secara teliti dan detail hal ikwal berbagai kewajiban dari masyarakat. Jumlah Bab adalah 146 yang terdiri dari 8.000 sloka.

Sedangkan, Aswamedha Parva terdiri dari Parva-parva sabagai berikut , Aswamedhika sesungguhnya adalah upacara korban kuda. Tujuan upacara ini untuk membersihkan semua dosa-dosa baik yang dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. . Sedangkan, Anugita merupakan kata-kata filosofi spiritual. Aswamedhika Parva merupakan parva yang keempat belas. Disini diceritakan kisah yang sangat bagus tentang Samvarta dan Marutta. Digambarkan juga penemuan Pandava benda-benda berharga yang dibuat dari emas. Lahirnya Parikshit kembali setelah dihidupkan Sri Krishna. Parikshit sebelumnya terbakar oleh senjata surgawi Brahmastha. Senjata sakti itu dipanahkan anak Drona, Aswatthaman. Juga ada cerita menarik, pertempuran Arjuna putra terbaik Pandu, pada saat mengikuti upacara persembahkan kuda yang hilang melawan beberapa pangeran yang dengan kemarahannya menangkap Arjuna. Diceritakan juga resiko yang besar harus dihadapi Arjuna dalam pertarungannya dengan Vabhruvahana, yang merupakan putranya sendiri. Putranya itu dilahirkan dari perkawinannya dengan Dewi Chitrangada, seorang putri yang ditunjuk oleh penguasa Manipura. Ada kisah tentang seekor musang pada saat dilangsungkannya upacara korban kuda. Inilah Parva yang sangat bagus yang bernama Aswamedhika.

Parva ini terbagi menjadi 103 Bab dan Rishi Vyasa menyusun pengetahuan kebenaran ini menjadi 3.320 sloka.

Asramavasika Parva ini terdiri dari parva-parva sebagai berikut Asramavasa. Di sini diceritakan Dhritarashtra melepaskan kerajaan. Raja Diraja keluarga Kuru itu pergi ke hutan ditemani istrinya tercinta Gandhari dan adiknya Vidura. Melihat hal ini Pritha yang berbudi luhur dan juga selalu menghargai dan menghormati para sesepuhnya, meninggalkan istana putra-putranya, untuk mengikuti pasangan sepuh itu. Pada Puttradarshana, digambarkan pertemuan antara sang raja dengan arwah putra-putranya, yang lebih dulu gugur. Mereka para cucu cucu, pangeran pengeran kembali dari dunia lain atas kebaikan hati Rishi Vyasa.

Naradagamana, mengisahkan Dewa Rishi Narada datang berkunjung ke kerajaan Pandava. Ia bertemu dengan Raja Yudhishthira yang adil. Narada menceritakan tentang punahnya keluarga Vrishni. Parva kelimabelas ini bernama Asramvasika, Sang raja yang penuh dengan kesedihan bersama istrinya mempelajari pahala yang paling tinggi dari perbuatan yang bermanfaat dan baik. Dalam parva ini, Vidura yang memang selama hidupnya cenderung berbuat kebajikan patut mendapat pahala yang besar.

Putra Gavalgana yang terpelajar, Sanjaya, juga mampu mengendalikan nafsu, keinginannya secara penuh. Dia juga seorang menteri yang utama mendapatkan berkah menyenangkan pada parva ini. Jumlah Bab pada Parwa ini 42 buah. Rishi Vyasa yang mengetahui kebenaran merangkai dengan indah pada 1.506 sloka.