Rishi Vyasa : (Baratha) setara degan Veda. Ini adalah suci dan agung. Baratha menganugrahi kekayaan dan kemakmuran. Oleh karena itu, seseorang harus mempelajari dan mendengarkan dengan perhatian penuh.

O PERTAPA. ‘’Aku tahu persis akan kekuatan penebusan dosanya. Karena itu dengan hati yang bergejolak, aku berkata-kata kepadanya, dengan badan membungkuk rendah dan dengan tangan tercakup,’’ ujar Sang Naga ‘’Kawan, aku melakukan semua ini untuk guyon saja, untuk membangkitkan ketawamu. Sudah sepantasnya engkau memaafkan aku dan menarik kembali kutukanmu,’’

Dan melihat hamba mendapat kesulitan besar, sang pertapa menghampiri dan menjawab, dengan menarik nafas panas dan keras, ‘Apa yang aku telah katakan harus terjadi. Dengarkanlah apa yang kukatakan dan resapkan ke dalam hatimu. ‘’O orang yang saleh, ketika Ruru putra Pramati yang suci muncul, kutukanku akan berakhir begitu engkau melihatnya.’’ ujar sang Naga ‘’Paduka adalah Ruru yang sebenarnya dan putra Pramati. Setelah mendapatkan kembali wujudku semula, aku akan bercerita tentang sesuatu demi kebaikanmu,’’ kata Naga Dundubha.

Dan orang yang terkenal dan Brahmana yang terbaik itu kemudian menanggalkan tubuh ular naganya. Dia mendapatkan wujud dan kecemerlangan aslinya. Dia berkata kepada Ruru yang kekuatan tapanya tidak tertandingi. ‘’O paduka makhluk yang utama, sesungguhnya kebajikan tertinggi seseorang itu adalah yang bisa membagi hidupnya dengan orang lain. Karena itu seorang Brahmana seyogyanya tidak pernah mencabut kesempatan hidup makhluk lain. Seorang Brahmana harus selalu berwatak lembut,’’ ujar Dundubha.

Ini semuanya adalah perintah dan ketentuan suci dari Veda. Seorang Brahmana paham akan Veda dan Vedanga dan memberikan inspirasi bagi semua makhluk untuk percaya kepada Tuhan. Ia harus penuh kebaikan kepada semua makhluk, jujur dan memaafkan bahkan ketika ia melaksanakan tugas yang berat yaitu menghafalkan Veda. Kewajiban seorang Kshatriya bukan tugas paduka. Menjalankan kerajaan, pemerintahan dan memerintah penduduk dengan sepatutnya adalah kewajiban-kewajiban seorang Kshatriya. Dengarlah, ‘’O Ruru, cerita tetang penghancuran ular-ular pada upacara korban ular yang dilaksanakan Prabu Janamejaya dahulu dan penyelamatan dan pembebasan ular-ular yang mengerikan oleh Dwija yang terbaik, Astika, yang pengetahuan Vedanya mempunyai kekuatan spiritual tinggi.’’ Tambah Dundubha

Ruru kemudian bertanya, ‘‘O Dwija yang terbaik, kenapa Prabu Janamejaya bertekad menghancurkan para ular?—Dan kenapa dan bagaimana mereka diselamatkan oleh Astika yang bijaksana? Hamba ingin mendengarnya secara lengkap.’’ tanya Rishi Ruru

Rishi Dundubha menjawab, ‘’0 Ruru, sejarah penting dari Astika paduka akan mendengarnya dari mulut seorang Brahmana.’ Sehabis berkata demikian, dia lenyap dan menghilang.

Ruru lari mencari sang Rishi yang menghilang, setelah gagal menemukan disekitar hutan itu, dia jatuh ke tanah, kelelahan. Kata-kata sang Rishi terngiang dipikirannya, sangat mengacaukan dan menghilangkan akal sehat, kesadarannya. Setelah sadar dan tenang, Rishi Ruru pulang dan menanyakan kepada ayahandanya cerita tentang sejarah Astika. Ayahandanya menceritakan kisah selengkapnya.

Naga Takshaka dan Dosa Indra

Pada suatu hari, ketika tuan dari penciptaan, Rishi Kasyapa, melakukan upacara korban untuk mendapatkan keturunan. Para Rishi, Para Dewa dan Para Gandharva, semua membantunya. Dewa Indra ditunjuk Rishi Kasyapa untuk membawa minyak korban. Dewa Indra pergi bersama para Valakhilya dan semua makhluk surgawi lainnya. Indra mengambil sesuai dengan kemampuannya sendiri. Walau demikian beratnya seperti sebuah gunung, tetapi Indra tanpa merasa lelah membawanya dengan rileks.

Selama perjalanan, dia melihat beberapa orang Rishi, yang ukuran badannya sebesar ibu jari. Rishi Rishi itu keturunan Rishi Kratu, salah satu Prajapati pertama ciptaan Dewa Brahma. Mereka bersama-sama membawa satu helai daun pohon Palasa alias –Butea Frondosa. Para Rishi tersebut, yang belum mendapat makanan menjadi sangat kurus. Berangsur angsur badannya melemah, mereka pun sangat menderita. Ketika melewati air bekas jejak kaki sapi sapi, tidak berdaya dan tenggelam. Purandara, yang sombong akan kekuatannya, menyaksikan mereka dengan herannya. Dia tidak berusaha menolong, malah menertawai Rishi Rishi itu dengan ejekan. Ia meninggalkan mereka dengan menghinaan selain melangkahi kepala mereka.

Para Rishi itu karena dihina merasa sangat gusar dan sedih. Mereka mulai mengadakan persiapan upacara korban besar dimana harapannya nanti Indra menjadi ketakutan. Karena ingin menyelesaikan upacara korban itu. Para pertapa yang berbudi luhur, bijaksana serta sangat taat pada sumpahnya itu menuangkan mentega di atas api homayadnya dengan mantra yang dikumandangkan secara keras. (bersambung)

Advertisements