Rishi Vyasa : (Baratha) setara dengan Veda. Ini adalah suci dan agung. Baratha menganugrahi kekayaan dan kemakmuran. Oleh Karena itu, seseorang harus mempelajari dan mendengarkan dengan perhatian penuh.

DEWA Api yang memiliki tujuh lidah api setelah mendengar kata-kata dari rakshasa ini menjadi sangat susah. Agni takut menceritakan hal yang tidak benar. Dia ketakutan kutukan sang Rishi Bhrigu. Agni relative lama memberikan jawaban dan suaranya pun keluar pelan, ‘Pauloma ini, sesungguhnya, pertama kali dipilih oleh paduka, O Rakshasa,’’ kata Agni. Namun, ia tidak paduka ambil melalui upacara suci dan doa. Wanita yang terkenal ini diserahkan ayahnya kepada Rishi Bhrigu sebagai hadiah guna memuluskan keinginan mendapatkan restu dan berkat. Karena itu, ‘’Ia tidak diserahkan kepada paduka O rakshasa,’’ ujar Agni. Wanita ini betul-betul dijadikan istri Rishi Bhrigu dengan upacara sesuai dengan Veda dan juga dengan kehadiranku. ‘’Aku tahu, Inilah dia,’’ lanjut Agni. ‘’Aku tidak berani berbicara yang tidak benar. O paduka,’’ tambah Agni kepada rakshasa yang terbaik. Ketidakbenaran tidak akan pernah dihargai di dunia ini.

Setelah mendengar kata-kata dari Dewa Api ini. Sang rakshasa berubah bentuk menjadi babi hutan jantan dan menangkap wanita ini. Dia melarikannya dengan kecepatan angin bahkan pikiran. Anaknya yang masih didalam rahim marah atas terjadinya kekerasan ini. Si anak keluar dari rahim ibunya. Karena itu, sang putra mendapat nama Chyavana. Sang rakshasa yang merasa bahwa sang bayi keluar dari rahim ibunya bersinar seperti matahari, akhirnya melepaskan pegangannya wanita itu. Rakshasa itu jatuh dan dengan segera menjadi abu. Pauloma yang cantik bingung dan juga sedih. Ia lalu mengambil bayinya bernama Chyavana, putra dari Bhrigu. Mereka terus berjalan. Kemudian Brahma, kakek dari semuanya ini melihatnya. Seorang istri bersama putranya yang tanpa salah sedang menangis. Brahma menghiburnya dan mendekap cucunya. Jatuhnya air mata yang mengucur deras membentuk sebuah sungai. Sungai itu mengikuti langkah istri pertapa agung Bhrigu itu. Kakek dari dunia ini melihat bahwa sungai itu yang mengikuti langkah istri dan putranya memberi nama sungai itu Vadhusara. Sungai itu melewati pertapaannya Chyavana. Dengan proses kelahiran seperti itu, Chyavana mempunyai kekuatan tapa yang luar biasa, lahir sebagai putranya Rishi Bhrigu.

Bhrigu melihat anaknya Chyavana dan ibunya yang cantik. Dengan marah sang Rishi bertanya kepada istrinya, ‘Oleh siapa adinda dikenalkan kepada rakshasa itu yang berketetapan hati untuk melarikan adinda,’’ tanya Bhrigu ‘’Apa rakshasa itu tidak tahu kalau adinda itu istriku. Karena itu, beritahu siapa yang bercerita kepada rakshasa itu demikian,’’ tegas Bhrigu marah dan hendak mengutuk yang membuka rahasia itu. Pauloma menjawab, ‘’O paduka pemilik enam tanda. Hamba diperkenalkan kepada rakshasa itu oleh Agni, Dewa Api,’’ ujar Pauloma. Rakshasa itu memikul hamba yang menangis seperti Kurari burung elang betina. Hanya karena kemegahan yang hebat dari putra paduka ini hamba bisa selamat. Rakshasa itu melihat bayi ini, langsung melepaskan hamba dan dirinya jatuh ke tanah berubah menjadi abu.’

Bhrigu yang mendengar cerita dari Pauloma, menjadi marah besar. Dengan nafsunya yang berlebihan sang Rishi mengutuk Dewa Agni. ‘Kamu akan makan segalanya.’’

Dewa Api juga marah atas kutukan Bhrigu ini. Agni lalu berkata kepada sang Rishi, ‘‘Apa maksud dari ketergesa-gesaan ini, O Brahmana. Apa yang paduka telah tunjukkan kepadaku. Pelanggaran apa yang bisa disalahkan kepadaku yang bekerja menegakkan keadilan dan berbicara kebenaran dan juga berbicara tidak memihak,’’ ujar Dewa Agni. Karena ditanya, Agni memberikan jawaban yang benar. ‘’Seorang saksi yang ditanyai suatu fakta yang dia tahu, kemudian berbohong mengatakan hal sebaliknya, dia itu menghancurkan leluhur dan keturunannya. Bahkan dosanya sampai dengan generasi yang ketujuh,’’ jawab Agni. ‘’Dia yang dengan penuh kesadaran terhadap semua kejadian tertentu, lalu tidak menjelaskan apa yang dia tahu, ketika ditanya. Tanpa ragu lagi ternoda oleh kesalahan. Aku dapat juga mengutuk paduka. Akan tetapi aku sangat menghargai golongan Brahmana,’’ tutur Agni. Walaupun hal yang sesungguhnya paduka tahu. ‘’O Brahmana, aku akan menjelaskannya,’’ Harap mengikutinya!

Dengan kekuatan tapanya, Agni melipatgandakan dirinya. ‘’Aku hadir di berbagai bentuk. Baik di tempat homa harian dilaksanakan. Pada upacara korban yang berlangsung tahunan. Di tempat-tempat dimana upacara suci dilaksanakan, seperti perkawinan, dan pada upacara korban lainnya. ‘’Ketika mentega dituangkan di atas apiku sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam Veda. Para Dewa dan Pitri ditenangkan,’’ ujar Agni. Para Dewa adalah air; para Pitri juga air. Para Dewa haknya setara dengan para Pitri dalam persembahan yang disebut Darsa dan Purnama,’’ lanjut Agni. Para Dewa karena itu adalah para Pitri dan para Pitri adalah para Deva. Mereka makhluk yang serupa, disembah bersama dan juga terpisah-pisah pada saat pergantian bulan. Para Dewa dan para Pitri makan apa yang dituangkan kepadaku. Karena itu aku disebut mulutnya para Dewa dan para Pitri. Persembahan pada bulan baru untuk para Pitri dan pada bulan purnama untuk para Deva. Pitri dan Dewa disajikan makanan melalui mulutku. Aku makan mentega murni yang dituangkan kepadaku. ‘’Sebagai mulut mereka, bagaimana aku bisa sebagai pemakan segalanya yang suci maupun yang tidak suci,’’ protes Dewa Agni.