Menarik menyimak terobosan para pengembang di beberapa kota besar. Kompetisi bisnis properti yang semakin keras dan penuh inovasi berani di lapangan, para pengembang berusaha optimal meraih kinerja fantastis.

Ada yang menggabungkan antara lokasi, desain bagus, integritas perusahaan, dan membangun sendiri infrastruktur. Ada yang membangun kompleks hunian, perkantoran, dan belanja dengan penekanan pada konsep hijau. Dari pembangunan ini, perusahaan mendapat penghargaan dan ini berarti pengakuan dari lembaga bergengsi dan publik. Masyarakat diharapkan tertarik dan membeli produk yang ditawarkan. Perusahaan lain bermain pada utak-utik harga dan sistem pembayaran, sesekali menggunakan arsitek kenamaan, lokasi strategis serta fasilitas.

Kendati semua korporat besar bertarung cerdas, tetap saja ada yang nomor satu. Yang nomor satu memang fenomenal dan unsur ”lucky” juga besar. Sketsa proyek baru dikerjakan, belum ada tanda pembangunan dan penjualan belum dibuka. Akan tetapi, para pemburu sentra hunian dan perkantoran sudah mengantre panjang.

Seorang pengembang menuturkan, separuh dari proyek sentra hunian dan bisnis yang hendak ia bangun sudah ”dibeli”. Para pebisnis dan para calon pembeli bersikeras ”menitip” uang sebagai tanda ”pasti mengambil” unit yang bakal dijual. Dijelaskan, dua pekan lagi semua proyek mungkin sudah habis terjual karena antrean warga yang bersikeras hendak ”menitip uang pasti beli” sudah sangat panjang.

Pengembang ini memang punya reputasi tinggi. Proyek yang ia kerjakan berkualitas tinggi, infrastrukturnya oke, dan ada areal penampung air agar bebas banjir. Yang mengerjakan proyek-proyek tersebut umumnya anak-anak muda potensial. Proyek dari pengembang ini selalu menjadi buruan konsumen Jakarta. Konsumen yang sangat sadar haknya.

Sisi lain yang menarik adalah formula beberapa pengembang yang membangun sendiri infrastruktur, merelakan sebagian arealnya menjadi jalan raya baru, dan membuka akses jalan tol. Mereka mendesain rumah, perkantoran, dan sentra belanja hasil pengalaman puluhan tahun sebagai pengembang dan studi banding ke belasan negara dengan sejarah arsitektur hebat. Jualan pun laku. Nilai aset bersih per saham naik tajam.

Hal mencengangkan, usia chief executive officer perusahaan-perusahaan itu 26-40 tahun. Di Amerika Serikat, misalnya, anak muda yang duduk di kursi puncak manajemen umumnya dari start up company. Mereka lulusan sekolah elite, pernah bekerja di luar negeri sebagai arsitek dan ahli keuangan di perusahaan raksasa. Pekerja keras di lapangan. Segar dan cerdas mengemas bisnis.

Perjalanan karier mereka masih sangat panjang. Waktu yang kelak menguji apakah prestasi mereka tetap oke. Pada era penuh persaingan saat ini, siapa pun anak-anak muda itu, mereka selalu mengisi ”baterainya” agar tak ketinggalan. Mereka banyak membaca dan melihat di lapangan.

Advertisements