Stres dan kebahagiaan seolah merupakan dua kutub yang berlawanan. Padahal, dampak stres sebenarnya tidak seburuk anggapan kita. Malah orang-orang yang tidak pernah menghadapi kesulitan justru kurang bahagia dibandingkan dengan mereka yang mampu mengelola stres dalam hidupnya.

Stres yang bersifat kronik memang bisa merugikan, bahkan menyebabkan penyakit. Kuncinya adalah menyeimbangkan antara stres dan rileksasi. Demikian kesimpulan penelitian yang dimuat dalam jurnal Current Directions in Psychological Science.

Para peneliti mengatakan, hasil studi mereka sangat penting untuk memahami resiliensi atau ketahanan kita dalam menghadapi tantangan. Menurut mereka, kemampuan menghadapi situasi stres merupakan inti dari resiliensi terhadap tantangan hidup.

Dengan kata lain, apabila kita bisa menghadapi stres dengan baik, kita pun jadi lebih “tahan banting” karena yakin dengan kekuatan dari dalam diri sendiri. Kita pun jadi lebih percaya diri dan tentu saja mendatangkan rasa bahagia.

Karena itu, jangan menghindar dari masalah. Apabila masalah itu membuat stres, anggap saja sebagai sarana latihan untuk membangun resiliensi yang membuat kita menjadi lebih kuat.

Sementara itu, studi lain mengatakan, salah satu cara untuk menghadapi stres adalah dengan meluangkan waktu khusus untuk khawatir. Misalnya, selama 20 menit dalam satu hari untuk merasa cemas dan khawatir. Penelitian menunjukkan, orang yang menyediakan waktu untuk khawatir justru rasa cemasnya akan berkurang secara alami sepanjang hari.