Kerauhan bisa diupayakan, namun sulit diduga mengenai waktu maupun orang yang mungkin akan kerauhan. Orang yang disiapkan untuk kerauhan dalam sebuah prosesi ritual yang khusuk, dalam sanghyang misalnya, bisa jadi tidak mengalami apa-apa. Sebaliknya, justru para partisipan lainnya yang memekik dan menggigil — nadi. Di sebuah pura di Kesiman, Denpasar, kerauhan bisa terjadi pada siapa saja yang terlibat dalam ritual itu. Seorang remaja yang membawa umbul-umbul bisa seketika liar menghunus keris dan ngurek (menusuk) tubuhnya sendiri. Seorang dara ayu tiba-tiba menyeringai garang meronta-ronta meminta keris untuk narat (menusuk tubuhnya).

Misteri kerauhan dalam kesenian Bali biasanya terjadi atau diupayakan dengan prosesi ritual yang serius. Untuk mencapai klimaks kerauhan dalam sanghyang misalnya harus melalui rentetan ritus. Tahap-tahap itu secara garis besar dapat dibagi tiga yakni nusdus, masolah, dan ngaluwur (sadar). Nusdus adalah merangsang para penari dengan asap yang beraroma harum menyengat agar segera kerauhan. Masolah adalah tahap menari setelah nadi dengan iringan lagu-lagu dan koor kecak atau bunyi-bunyian gamelan. Ngaluwur adalah mengembalikan penari pada jati dirinya.

Dalam dramatari Calonarang, pertarungan ilmu hitam dengan simbol Rangda melawan ilmu putih dengan personifikasi Barong, kerauhan terjadi tanpa persiapan tertentu. Biasanya meledak tiba-tiba pada penari keris yang berpihak pada Barong. Pada kesenian Tektekan di daerah Tabanan, penari Rangda juga mengalami kerauhan. Ia dikeroyok dan ditusuki ramai-ramai oleh para penari keris sebelum ngurek dirinya sendiri dengan badan melengkung atau berguling-guling di tanah. Dan akan segera berhenti, sadar, serta lemas setelah mendapat percikan tirta (air suci) oleh seorang pemangku.

Hampir semua orang yang mengalami kerauhan, baik penari maupun para partisipan, mengatakan sulit mengisahkan apa yang terjadi selama dalam keadaan tidak sadar itu. Bagaimana mereka, penari Rangda misalnya, begitu sakti dan perkasanya, tak diketahuinya sama sekali. Lecet-lecet di dada para penari keris sama sekali tak dirasakan sakit. Begitu pula bagaimana panas bara api tak dirasakan sengatannya oleh para penari Sanghyang Jaran. Mereka pada umumnya hanya merasakan agak letih setelah siuman kembali.

Para penari Sanghyang Dedari juga tidak mengetahui bagaimana ia bisa menari dengan begitu alamiah dan indahnya saat kerauhan. Sebab, sesungguhnya mereka biasanya tidak pernah belajar menari ketika ditunjuk menjadi calon sanghyang. Tapi begitu kerauhan, gending-gending palegongan yang dimainkan para penabuh dapat diinterpretasikannya dengan gerak-gerak improvisasi yang indah, lugas, dan menawan.

Ada beberapa jenis sanghyang yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Selain yang telah disinggung, yang lainnya adalah Sanghyang Dewa, Sanghyang Deling, Sanghyang Dangkluk, Sanghyang Penyalin, Sanghyang Lelipi, Sanghyang Bojog, Sanghyang Memedi, Sanghyang Bumbung, Sanghyang Kidang, Sanghayang Sampat, Sanghyang Janger, Sanghyang Kuluk, Sanghyang Penyu, Sanghyang Sembe, Sanghyang Sengkrong dan beberapa lagi. Jika ditelusuri, jenis-jenis sanghyang itu masih dapat dijumpai pementasannya dan kerauhan-nya.

Sanghyang Deling masih sering nadi di desa-desa di sekitar danau Batur, Kintamani. Lewat perantara boneka, sanghyang ini meperagakan tarian unik. Sanghyang Celeng masih eksis di Desa Pasangkan dan Duda, Karangasem. Dengan pakaian yang terbuat dari bahan ijuk seorang laki-laki yang kerauhan Sanghnyang Celeng akan merangkak dan mendengus bak babi berkeliling desa. Sanghyang Memedi masih ditradisikan di Bali Utara. Memedi yang berarti sejenis orang halus ini dibuat kodal dengan membakar tahi kuda. Dalam keadaan kerauhan, dengan jail ia akan menculik anak-anak lalu meninggalkannya di tempat sepi atau bisa juga di kuburan.