”KERAUHAN” memang merupakan sebuah keunikan sekaligus misteri yang sulit dijelaskan, namun amat biasa bagi orang Bali.

Tari sakral sanghyang yang berasal dari zaman pra-Hindu selalu menghadirkan unsur kerauhan. Sanghyang Dedari (bidadari) yang dibawakan dua orang gadis akan menerjang atau meloncat berdiri di atas bahu pria dewasa menghalau roh-roh jahat yang ingin mengacau masyarakat desa. Sanghyang Jaran (kuda) yang dibawakan seorang pria tampak begitu beringas meringkik sembari menginjak-nginjak kubangan bara api bagai bermain air hujan. Sanghyang Celeng (babi) yang seruduk sana dan seruduk sini menelan benda-benda yang dianggap menjadi sumber berjangkitnya wabah penyakit.

Dramatari Calonarang yang semi-sakral juga sering disertai peristiwa kerauhan. Biasanya ia muncul pada adegan klimaks saat pertempuran Barong melawan Rangda. Tokoh Rangda ditombaki ramai-ramai dengan keris terhunus oleh puluhan laki-laki namun tak luka sedikit pun. Begitu juga ketika pengeroyok beringas itu menusuk sekujur tubuhnya sendiri tak ada yang sampai mengucurkan darah apalagi terbunuh.

Kerauhan juga bisa terjadi pada tari baris ritual, seperti Baris Cina misalnya. Kesenian yang hanya ada di Desa Sanur, Denpasar, ini sungguh unik. Dengan senjata samurai serta pakaian seperti pendekar silat dari Tiongkok ia meragakan gerak-gerak kungfu, diiringi gong beri — semacam tambur Cina. Bila sudah kerauhan, dari mulut para penarinya akan berhamburan seperti bahasa dari negeri Tirai Bambu sana, “haiya… haiya….”

Anehnya, kesenian sekuler seperti joged dan janger ada juga yang menghadirkan misteri kerauhan. Salah satu jenis joged yang disebut Leko yang eksis di daerah Tabanan akan sungguh menegangkan begitu para pemain utamanya mengamuk tak sadarkan diri dalam sebuah adegan peperangan yang biasanya mengambil sumber dari lakon Calonarang. Sedangkan janger yang disertai histeria kerauhan adalah Janger Maborbor — janger terpanggang api yang masih ditemui di sebuah desa di kaki gunung Batur, Kabupaten Bangli.

Nadi di Bali Selatan dan kodal di Bali Utara adalah variasi istilah lain untuk menyebut kerauhan. Namun maknanya hampir sama: bahwa hyang atau dewa, atau makhluk halus tertentu sedang berkenan memasuki tubuh seseorang. Dan bila ini terjadi, masyarakat dengan takzim akan tunduk dan mengikuti berbagai petuah, nasihat, permintaan, dan perintah orang yang sedang nadi itu. Bila misalnya Sanghyang Dedari menginginkan keliling desa malancaran (bertamasya) hingga menjelang pagi, masyarakat pendukungnya akan ngiring (ikut serta) dengan khidmat. Begitu pula bila sanghyang menguraikan ramuan-ramuan yang harus dipakai obat, masyarakat akan mendengarkan secara seksama.