Mobil listrik butuh sistem pendingin yang lebih canggih dibandingkan dengan mesin bensin atau diesel. Memang tidak ada pembakaran, namun panas yang ditimbulkan mobil listrik, terutama dari baterainya, bisa memperpendek usia komponen utama ini. Apalagi, baterai lithium-ion yang digunakan oleh mobil listrik, terdiri dari ratusan sel.

Contoh paling dekat dengan kehidupan kita sehari-hari terkait sifat baterai lithium-ion adalah, telepon genggam atau komputer tablet. Ketika digunakan dalam waktu cukup lama, bagian belakang gadget tersebut panas. Hal yang sama juga terjadi pada mobil listrik yang mengandalkan baterai sebagai sumber energinya. Jadi, efisiensi mobil listrik belum top banget karena masih ada panas yang harus dibuang.

Umur Pakai
Karena perlu perhatian khusus tersebut, Chevrolet yang sangat mengandalkan Volt sebagai mobil mobil masa depan, kini gencar memberi edukasi kepada masyarakat tentang teknologi mobil ini. Dalam hal ini yang menjadi perhatian utama adalah baterai.

Para ahli Chevrolet pun menjelaskan problem yang dihadapi komponen mobil listrik yang sangat vitalnya ini. Terutama suhu baterai yang terjadi akibat lingkungan dan bila digunakan.

Dijelaskan, baterai yang digunakan pada Volt harus bekerja pada suhu yang telah ditentukan agar bisa memberikan energi kepada motor listrik secara optimal. Tepatnya, baterai tidak boleh terlalu dingin atau sebaliknya kepanasan. Di lain hal, iklim di Amerika menyebabkan suhu baterai bisa sangat rendah, terutama ketika musim dingin. Pada kondisi seperti, baterai tidak bisa menghasilkan tenaga secara maksimal. Untuk itu harus pula dipanaskan.

Nah, karena jaminan umur pakai baterai yang diberikan hanya 8 tahun atau 160.000 km – untuk mencapai umur tersebut – salah satu yang harus diperhatikan adalah suhu kerjanya. “Setiap baterai mempunyai suhu kerja yang pas agar bisa menghasilkan energi secara optimal. Begitu juga dengan, kapasitas menyimpan energi dan umur pakainya. Harus sesuai dengan target yang telah kami tentukan. Kalau terlalau dingin, baterai susah melepaskan energi. Bila terlalu panas, umur pakainya jadi pendek,” kata Bill Wallance, Direktur General Motor untuk Global Battery System.

288 Sel
Baterai digunakan Chevrolet Volt, terdiri dari 288 sel dan dikemas dengan bentuk huruf “T”. Kemasan ini, selain terdiri dari sel, juga dikelompokkan lagi menjadi 9 modul. Selanjutnya, paket baterai itu ditempat dalam rangka plastik. Nah, di antara celah sel terdapat pula pendingin berupa sirip dari aluminium.

Rancangan dan konstruksi pelat aluminium tersebut sangat vital. Inilah komponen pertama yang yang melepaskan dari sel baterai atau mendistribusikan ke bagian lain.

Seluruh unit baterai yang berukuran besar dilengkapi pula dengan sirkuit pendingin sendiri. Fungsinya sama dengan sama dengan pendingin mesin bensin atau diesel namun sistem kerjanya berbeda.

Chevrolet mengunakan sirip pendingin buatan Dana Corp yang terdiri dua pelat alminium yang disambung dengan proses nikel-perunggu. Alurnya dirancang secara cermat dan dipasang pada pelat berbentuk alur agar pendingin bisa mengalir dengan lancar. Pendingin ini juga dipaksa atau dipompa untuk mengelari ke seluruh opermukaan sel baterai.

Menurut Wallance, untuk mengatur suhu pendingin digunakan tiga sistem berbeda. “Pertama, ketika mobil dicolokkan ke stop kontak untuk mengisi baterai pada cuaca dingin. Untuk ini yang bekerja adalah pemanas listrik di depan kemasan baterai bekerja. Cairan pendingin dipanas untul selanjut membuat baterai jadi lebih hangat. Pada kerja normal, pendingin dialirkan ke radiator di depan mobil, sementara pendingin dari sirkuit AC digunakan untuk melepaskan panas dari baterai bila suhunya terus naik”

Kelengkapan lainnya dari sistem pendingin adalah 16 sensor panas (termal ). Sensor ini hanya membolehkan suhu Cuma boleh naik 2 derajat dari yang telah ditentukan.

Advertisements