Saya yakin Anda pernah mendengar atau membaca kata “emosi”, tetapi jika harus mendefinisikan, mungkin tidak mudah. Saya yakin Anda juga pernah beremosi atau menyadari bahwa Anda memiliki emosi. Kita pernah marah lalu ditegur,”Jangan emosi dululah”. Dala, konteks ini apakah marah sama dengan emosi? Tentu tidak sama. Kita pun pernah merasa senang, gembira, atau bahkan bersorak-sorai, misalnya ketika menyaksikan pahlawan bulu tangkis Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma mengalahkan lawan-lawanya di pertandingan final Olimpiade Bacelona 1992, dan juga ketika Taufik Hidayat berjaya di Olimpiade Athena 2004. Pada saat itu, emosi rakyat Indonesia meluap-luap bercampur perasaan gembira, haru, dan bangga, bahkan ada yang menangis menyaksikan Sang Saka Merah Putih berkibar diiringi lagu “Indonesia Raya”. Jadi apakah senang, gembira, harus sama dengan emosi? Tidak juga, walaupun dapat dikatakan sebagai bentuk atau model emosi, atau juga komponen emosi.
Jawabanya langsung dapat dicari di kamus, baik kamus bahasa maupun kamus ilmiah tetapi lebih tepatnya pada kamus psikologi. Anehnya, setisp ksmud menyajikan definisi yang berbeda seperti dalam dua Kamus Bahasa Indonesia ini yang bebeda pengarangnya mengatakan bahwa :
Emosi : Luapan perasaan yang berkembang dan surut di waktu singkat. Keadaan dan reaksi psikologis (seperti kegembiran, kesedihan, keharuan, kecintaaan, keberanian yang bersifat subjektif)
Emosi : Rasa hati, perasaan, gerak rasa seperti rasa sukacita, dukacita, pilu, iba murka dan sebagainya.
Keduanya memberikan makna yang berbeda. Pertama, emosi adalah sesuatu keadaan atau peristiwa yang berkaitan dengan perasaan. Kedua, makna emosi sama dengan perasaan.
Mari kita cari definisinya dari buku populer atau buku ilmiah. Menurut buku Emotional Intelligence, karya Daniel Goleman, seorang profesor psikologi : “Kata yang selalu saya rujuk dalam buku ini adalah emosi,istilah yang makna tepatnya masih membingungkan baik para ahli psikologi maupun ahli filsafat selama lebih dari satu abad.
Sesuai makna harfiah, Oxford English Dictionary mendefinisikan :
Emosi : Setiap kegiatan atau pergolakan perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap.
Daniel Goleman mengganggap emosi merujuk pada perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, atau keadaan biologis dan psikologis seta serangkaian kecendrungan untuk bertindak. Ada ratusan emosi beserta campuran , variasi, mutasi, dan nuansanya. Para peneliti masih terus memperdebatkan mana yang dapat dianggap sebagai emosi primer, atau bahkan mempertanyakan apa benar ada emosi primer seperti itu. Sejumlah teoritikus mengklasifikasikan emosi menjadi kelompok besar, meskipun tidak semuanya sepakat. Diantaranya marah, sedih, cinta, terkejut, jengkel,dan malu. Sementara semua hasil penemuanPaul Ekman, ada empat kelompok utama, yaitu takut, marah, sedih, dan senang. Dan uraian ini Daniel Goleman sendiri belum sampai kesimpulan apa yang dimaksud dengan emosi.
Jika menghadapi situasi seperti ini, lebih baik kita tidak perlu menjadi pengikut salah satunya meskipun tidak boleh mengesampingkan yang lain. Berdasarkan hal ini, saya mengajak Anda untuk berusaha mengajukan pendapat sendiri, jadi saya akan berusaha merumuskan apa itu emosi dari sudut pandang yang berbeda. Kita perhatikan peribahasa asli Indonesia , warisan nenek moyang nanarif bijaksana:
“ Pikir itu Pelita Hati ”
Mari kita kaji peribahasa itu, baik dalam kesatuanya maupun kata demi kata. Peribahasa itu mengandung petuah dan sangat dekat dengan “hemat emosi” :
“ Gunakan akal budi sebaik-baiknya dan pertimbangkan segala sesuatu sebaik-baiknya menjadikan seseorang lebih arif dan bijaksana.”
Kita bahas makna kata-kata yang menyusun pribahasa itu yaitu “pikir”, “pelita”, dan “hati”.
“Pikir” berarti akal budi, nalar, ingatan, atau angan-angan yang bahasa modernya disebut imajinasi. “ Berpikir” berarti menggunakan akal budi atau nalar untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu. Ketika mempertimbangkan, dengan sendirinya ada dua objek. Pertama adalah peristiwa yang dihadapi dan disikapi, lalu diambil keputusan agar dapat menguntungkan serta baik adanya. Kedua adalah pengalaman dan pengetahuan yang kita miliki. Kita semua tahu bahwa berpikir itu menggunakan otak, yang hasilnya kita rasakan setiap hari. Dengan peribahasa “ Pikir itu pelita hati”, dapat diketahui kesimpulan dari teori psikologi asli nenek moyang kita bahwa, “pikir berbeda dengan hati”, yang maknanya perasaan. Keterpiahan yang tidak total tapi saling berhubungan itu membimbing perasaan agar kita menjadi orang yang bijaksana.
Dengan demikian, nenek moyang kita memang sudah berteori bahwa pikiran dan perasaan merupakan satu kesatuan dimana perasaan menimbulkan tindakan, sementara pokir memberi tuntunan agar tindakan kita benar. Berikut ini adalah usul saya mengenai arti “emosi”:
“Suatu keadaan subjeltif dalam mengekspresikan perasaan, ketika menghadapi orang, perasaan, ketika menghadapi orang, peristiwa, atau benda.”